Anak-Anak Tak Bebas Risiko Hipertensi

Anak-Anak Tak Bebas Risiko HipertensiHipertensi atau tekanan darah melebihi standar normal biasanya dianggap sebagai penyakit orang dewasa. Nyatanya, kini hipertensi mulai menjamah kaum muda, anak-anak bahkan bayi, dapat terjangkit hipertensi.

“Sangat sedikit yang memperhatikan hipertensi pada anak. Banyak orang tua beranggapan buat apa ada pengecekan tekanan darah pada anak? Beberapa dokter juga ada yang beranggapan seperti itu, padahal ini penting sekali,” kata Ariesta Ann Soenarta, pakar hipertensi Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, saat memberikan paparan pada perayaan ‘World Hypertension Day 2016’ di Kantor Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Jalan Danau Toba Bendungan Hilir, Jakarta Selatan, Rabu (18/5).

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan International Journal of Hypertension 2011 lalu, menemukan bahwa prevalensi atau kejadian hipertensi pada anak adalah 1-2 persen dari populasi. Anak dengan hipertensi juga diketahui memiliki risiko empat kali lebih besar menderita hipertensi saat dewasa dibanding anak normal.

“Yang mengerikan adalah semakin tahun prevalensi anak dengan hipertensi semakin meningkat. Peningkatan ini karena munculnya banyak faktor risiko lain termasuk gaya hidup yang buruk, dan aktivitas anak yang kurang terjaga,” kata Ariesta.

“Kejelian orang tua memperhatikan apa yang akan terjadi pada anak saat mereka dewasa nanti semakin berkurang.”

Menurut Ariesta, hipertensi pada orang dewasa justru terjadi karena tidak dilakukannya deteksi dini sejak masih kanak-kanak. Selain itu, hipertensi pada anak cenderung terjadi karena kelainan sekunder atau terdapat penyakit pada anak seperti gangguan endokrin seperti hipertiroid, hiperaldosterone atau Conn’s Syndrome.

Conn’s syndrome atau primary aldosteronism adalah kondisi berlebihnya produksi hormon aldosterone oleh kelenjar adrenal, sehingga menyebabkan kadar protein renin pada tubuh menurun. Dampaknya, anak mengalami kelemahan otot, kejang, atau buang air kecil berlebihan.

Kondisi sekunder lainnya yang dapat menyebabkan seorang anak menderita hipertensi adalah penyempitan pada aorta, dan penggunaan obat-obatan. Kondisi ini berbeda dengan hipertensi pada orang dewasa karena kelainan esensial disebabkan faktor keturunan dan gaya hidup buruk.

Bila gaya hidup telah menjadi penyebab esensial pada hipertensi orang dewasa, gaya hidup memburuk dianggap faktor baru penyebab hipertensi pada anak. Perubahan gaya hidup yang dimaksud adalah anak kurang beraktivitas fisik, terlalu banyak menggunakan gawai atau menonton televisi asupan makanan tinggi kalori dan garam, minuman mengandung kafein, hingga stres.

“Saya sangat menganjurkan kepada orang tua untuk mulai observasi hipertensi pada anak sejak mereka 3 tahun. Apalagi bila orang tua memiliki riwayat hipertensi, pemeriksaan sedini mungkin menjadi semakin penting.” kata Ariesta.

Konsensus Tata Laksana Hipertensi pada Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia 2011 lalu, menyatakan pengobatan hipertensi pada anak dapat dilakukan dengan farmakologis dan nonfarmakologis. Pengobatan farmakologis atau obat-obatan dilakukan tergantung pada usia anak, tingkat hipertensi, dan respon terhadap pengobatan.

Sedangkan pengobatan nonfarmakologis adalah dengan cara mengubah gaya hidup seperti menurunkan berat badan menjadi proporsional, diet rendah lemak dan garam, dan olahraga secara teratur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *